“Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti” atau yang bahasa Jawa kunonya “Sura sudira jayanikang rat, suh brastha tekaping ulah dharmastuti” bahwasanya, betapapun hebatnya seseorang, yang sakti mandraguna kebal dari segala senjata, namun manakala dalam lembaran hidupnya selalu dilumuri oleh ulah tingkah yang adigang-adigung-adiguna (mengandalkan kekuatan maupun kekuasaannya sehingga bisa berbuat sewenang-wenang dengan serta merta aji mumpungnya, maka pada saatnya niscayalah akan jatuh tersungkur dan lebur oleh ulah pakarti luhur (tindak perbuatan yang mengutamakan berlakunya nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan beradab guna menuju kearah terciptanya suatu masyarakat sejahtera lahir maupun batin, sebagai yang dimaksudkan dengan istilah pangastuti ataupun dharmastuti). Nilai-nilai filasfat timur yang pada hakekatnya sudah menjelma menjadi tata nilai kehidupan, dimana setiap kejahatan pasti akan dapat dihancurkan oleh kebajikan, oleh ulah pakarti yang baik, oleh berlakunya nilai-nilai keadilan dan kebenaran.