Latest Entries »

TOKO ONLINE

Photobucket

Sesuatu mungkin yang tidak bermanfaat bagi anda tapi mungkin bisa bermanfaat bagi orang disekitar anda, atau mungkin juga tidak bermanfaat bagi orang di sekitar anda tapi mungkin bermanfaat bagi diri anda pribadi di http://bangdoni.co.cc/tokoku/

Al-Khiḍr secara harfiah berarti ‘Seseorang yang Hijau’ melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa Khidr memiliki telah diberikan sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān.

Teguran Allah Kepada Nabi Musa As

Kisah Musa dan Khiḍr dituturkan oleh Al-Qur’an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab menceritakan bahawa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”

View full article »

Sudah banyak pengetahuan tentang rajah, tetapi didalam buku yang telah ada jarang sekali diterangkan bagaimana caranya menulis rajah itu. Karena rajah tidak akan ada gunanya bila ditulis dengan begitu saja. Saat ini dipasaran banyak sekali azimat (rajah) yang beredar. Perlu diketahui bahwa tidak semua azimat yang dipasarkan memiliki energi metafisik, sehingga tidak akan memberikan kontribusi apa-apa bagi penggunanya. Azimat akan menghasilkan energi metafisik, jika ditulis tangan langsung dan dengan bahan yang alami dan berkualitas (misalnya seperti kertas kalkir, kulit kambing, kulit kijang, kulit macan, kain kiswah Ka’bah, kain sutra dll). Cara penulisannya harus dilakukan dengan menjaga adab-adab penulisan (bersih, suci, tidak dalam keadaan berkomunikasi dengan orang lain apalagi sambil makan, memiliki kekuatan batin sehingga torehannya mengandung kekuatan, serta harus ditutup dengan memasukkan kekuatan metafisik dan menguasai ilmu pengendalian khodam). Perlu disadari bahwa penggunaan azimat bukan berarti kita menyerahkan segala urusan kita pada azimat. Azimat (rajah) hanyalah merupakan media untuk mencapai sesuatu, seperti halnya kita minum obat untuk membantu penyembuhan suatu penyakit yang diderita. View full article »

 

“Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti” atau yang bahasa Jawa kunonya “Sura sudira jayanikang rat, suh brastha tekaping ulah dharmastuti” bahwasanya, betapapun hebatnya seseorang, yang sakti mandraguna kebal dari segala senjata, namun manakala dalam lembaran hidupnya selalu dilumuri oleh ulah tingkah yang adigang-adigung-adiguna (mengandalkan kekuatan maupun kekuasaannya sehingga bisa berbuat sewenang-wenang dengan serta merta aji mumpungnya, maka pada saatnya niscayalah akan jatuh tersungkur dan lebur oleh ulah pakarti luhur (tindak perbuatan yang mengutamakan berlakunya nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan beradab guna menuju kearah terciptanya suatu masyarakat sejahtera lahir maupun batin, sebagai yang dimaksudkan dengan istilah pangastuti ataupun dharmastuti). Nilai-nilai filasfat timur yang pada hakekatnya sudah menjelma menjadi tata nilai kehidupan, dimana setiap kejahatan pasti akan dapat dihancurkan oleh kebajikan, oleh ulah pakarti yang baik, oleh berlakunya nilai-nilai keadilan dan kebenaran.